solo89
LIVEIdentitas Solo tidak terbentuk dari nama di peta saja. Perpindahan pusat pemerintahan, perubahan wilayah kekuasaan, dan cara orang menyebut kota ikut membentuk lapisannya. SOLO89 menelusuri jejak itu untuk melihat bagaimana sejarah kota berhubungan dengan ruang dan kehidupan sehari-hari.
Dari Kartasura ke Desa Sala
Sejarah Surakarta sebagai pusat pemerintahan baru berawal ketika Pakubuwana II memindahkan kedudukan raja dari Kartasura ke Desa Sala setelah Kartasura rusak akibat konflik. Keraton baru mulai ditempati pada 20 Februari 1745, di lokasi yang tidak jauh dari Bengawan Solo dan sekitar 20 kilometer ke tenggara Kartasura [1][3].
Perpindahan itu bukan sekadar perubahan titik pada peta. Desa Sala menjadi tempat berdirinya keraton baru, lalu tumbuh sebagai pusat pemerintahan. Nama Surakarta diberikan kepada keraton dan pusat baru tersebut [1]. Dalam pembacaan sejarah perkotaan, keputusan memindahkan pusat kekuasaan membantu menjelaskan mengapa lokasi dan nama menjadi bagian penting dari identitas kota.
Surakarta, Solo, dan lapisan nama
Nama yang digunakan sehari-hari tidak selalu sama dengan nama dalam urusan pemerintahan. Surakarta digunakan dalam konteks formal-pemerintahan, sedangkan Sala atau Solo lebih dekat dengan penyebutan umum yang berlatar kultural [1]. Perbedaan ini membuat identitas kota hadir dalam lebih dari satu sebutan, sesuai konteks pemakaiannya.
Penjelasan etimologi yang dicatat untuk nama Solo juga berawal dari Sala: penyebutan Sala dianggap sulit bagi orang Belanda, lalu berubah menjadi Solo dalam pemakaian berikutnya [1]. Riwayat nama ini mengingatkan bahwa bahasa ikut membawa jejak pertemuan sejarah, bukan hanya menempelkan label pada sebuah tempat.
Perubahan kuasa mengubah peta sejarah
Perjanjian Giyanti pada 1755 membagi wilayah Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta; Surakarta tetap menjadi pusat pemerintahan bagi salah satu wilayah tersebut [1][2]. Perjanjian Salatiga pada 1757 kemudian memberi Raden Mas Said wilayah berstatus kadipaten, yang dikenal sebagai Mangkunegaran [1][2].
Perubahan-perubahan itu menunjukkan bahwa sejarah kota tidak bergerak dalam satu garis yang tak berubah. Pusat Surakarta berada dalam jaringan pemerintahan dan wilayah yang bergeser. Memahami konteks tersebut memberi latar untuk membaca mengapa sejarah Solo juga terkait dengan pembagian kuasa, bukan hanya pembangunan keraton.
Keraton sebagai ruang yang terus digunakan
Keraton Surakarta lebih tepat dibaca sebagai kompleks ruang daripada satu bangunan. Luas keseluruhan kompleksnya disebut mencapai 157 hektare, mencakup area Baluwarti, Alun-Alun Lor dan Alun-Alun Kidul, Gapura Gladag, serta Masjid Agung; kawasan intinya seluas 15 hektare [3]. Rincian ini membuat keraton tampak sebagai bagian kota yang tersusun dari beberapa tempat, bukan sekadar titik tujuan di peta.
Hubungan ruang dengan kehidupan sehari-hari terlihat pada fungsi keraton yang masih menjadi tempat tinggal Sunan dan rumah tangga istananya, yang menjalankan tradisi kesunanan. Sebagian kompleks terbuka untuk masyarakat umum dan di dalamnya terdapat museum [3]. Dari sini, warisan sejarah tampak bukan hanya sebagai bangunan masa lalu, tetapi juga sebagai ruang yang masih memiliki fungsi dan akses pada masa kini.
Sungai dan ingatan tentang kota
Di sisi timur Surakarta mengalir Bengawan Solo, yang namanya juga diabadikan dalam salah satu lagu keroncong [1]. Kedekatan antara unsur geografis dan rujukan budaya ini memberi satu cara untuk membaca identitas kota: tempat dapat dikenang bukan hanya lewat batas dan bangunannya, tetapi juga melalui nama yang hidup dalam budaya.
Jejak Solo tersusun dari pilihan lokasi, perubahan pemerintahan, nama yang dipakai dalam konteks berbeda, dan ruang yang tetap digunakan. Peta menunjukkan letak; sejarah membantu menjelaskan mengapa tempat dan sebutan itu memperoleh makna bagi kehidupan kota.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Kota Surakarta. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29932078&title=Kota_Surakarta (diakses 2026-10-04).
- [2] Wikipedia bahasa Indonesia — Kesunanan Surakarta Hadiningrat. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=30000539&title=Kesunanan_Surakarta_Hadiningrat (diakses 2026-10-04).
- [3] Wikipedia bahasa Indonesia — Keraton Surakarta Hadiningrat. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29638571&title=Keraton_Surakarta_Hadiningrat (diakses 2026-10-04).